MEMERANGI JIWA KONSUMTIF
0Baru2 ini di Jakarta diberitakan kejadian heboh tentang penjualan Blackberry. Ribuan orang pada mengantri untuk mendapatkan produk canggih alat komunikasi itu. Untuk membayar mahal saja, ada yang harus pingsan. Bukan hanya itu, penjualan sepeda motor per September 2011 telah berada di sekitar 6,2 juta unit. Hingga akhir tahun, diperkirakan penjualan motor nasional bisa mencapai angka 8,1 juta unit. Jika angka tersebut tercapai pada akhir tahun, maka ada penambahan sekitar 0,7 juta sepeda motor dari tahun 2010. Pada tahun lalu, angka penjualan motor telah mencapai 7,4 juta unit. Pasar motor itu diprediksi masih akan terus meningkat untuk waktu2 mendatang. Sektor panganpun sudah menjadi budaya bertahun2 menggantungkan produk impor.
Fenomena ini sungguh menyakitkan untuk bangsa besar yang kaya alam dan orang2 pinter di dalamnya. Namun apa hendak dikata, fakta memang menunjukkan bahwa bangsa ini belum ada tanda2 menuju kemandirian. Kalimat “menuju kemandirian” telah sering didengar semenjak zaman orde baru puluhan tahun lalu. Namun walau sudah berganti pemimpin negara berkali2, cita2 itu masih juga menjadi harapan2 kosong. Akankah impian itu bisa menjadi kenyataan? Sesungguhnya tidak ada kata “tidak bisa” jika ambisi kepemimpinan negara ini bukan untuk mencapai tujuan individual. Jika semua kebijakan negara diputuskan demi kemashlahatan seluruh komponen bangsa, maka apapun keputusan itu akan mensejahterakan ummat.
Lalu bagaimana bisa keluar dari jeratan ketergantungan dengan bangsa lain? Apalagi kita juga mendengar pasukan pertahanan nasional juga diintervensi kepentingan negara lain sebagaimana terjadi di Freeport akhir2 ini. Kita perlu angkat jempol dengan apa yang terjadi di Iran saat ini. Iran pernah menjadi importir pangan dari Amerika pada masa pemerintahan Syah Iran masa lalu. Tapi saat ini, justru Iran bisa membalik menjadi eksportir pangan ke Amerika. Keyakinan diri Iran tidak dijual murah hanya dengan gertakan politik luar negeri. Karena memang kemandirianlah yang membuat segalanya menjadi kekuatan yang tidak terkalahkan dengan negara besar sekalipun. Ancaman pengetatan sanksi ekonomi bahkan penyerangan instalasi nuklir, tidak sedikitpun membuat Iran menyerahkan harga dirinya dimata Amerika.
Bangsa menjadi konsumtif seperti sekarang ini, jujur sesungguhnya dipicu oleh pola penyelenggara negara yang konsumstif. Rakyat jelata hanyalah korban yang terdidik dari pola konsumerisme aparat yang selama ini lebih banyak membelanjakan anggaran pada sektor2 konsumtif. Sektor produktif seperti kredit usaha kecil, hanya bisa terserap 20% saja, pada hal, faktanya rakyat kecil masih membutuhkan bantuan dana modal untuk mengembangkan usahanya. Lahan2 produktif banyak diintervensi oleh kebijakan daerah dan dirubah menjadi lahan tidak produktif seperti perumahan dsb. Lemahnya pertumbuhan usaha kecil karena sulitnya mengakses permodalan, mendorong para penganggur memilih menjadi TKI dan TKW yang rentan dengan persoalan diskriminasi dan dekadensi moral bangsa ini dimata dunia.
Memandirikan bangsa hanya efektif dilakukan oleh pemerintah sebagai pemegang kendali negara. Rakyat kecil yang jumlahnya sangat besar saat ini seperti orang yang sedang tenggelam dilautan ketidak pastian. Akan berbuat apa, mereka kebanyakan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kompensasi atas kebingungannya adalah dengan merusak alam. Karena hanya alam yang cenderung makin tidak terpelihara ini, satu2nya yang bisa mereka manfaatkan. Konsumerisme masyarakat bisa dibalik menjadi masyarakat produktif hanya dengan merobah pola pikir produktif. Alam negeri ini sangat potensial untuk bisa mewujudkan bangsa mandiri. Udara, air dan darat, amat berlimpah, bahkan orang lain menyebut syurga dunia. Hanya tinggal menunggu lonceng kemandirian ditabuh, bangsa ini akan berhanjak menjadi bangsa yang memimpin dunia. Wallohu a’lam
TAHUN BARU DAN REFORMASI KEHIDUPAN
0Jika kita mengamati regenerasi orang beriman, sesungguhnya awal kehadiran manusia di bumi dimulai dari keputusan hukum pernikahan. Manusia lahir dimulai dengan legalitas hukum Tuhan yang dijalankan oleh para pemelihara hukum Ilahi. Diluar prosesi itu, manusia tidak lebih dari hewan dan sejenisnya. Legalitas itulah yang memanusiakan harkat orang beriman. Legalitas itu datang dari Alloh yang darinyalah segala makhluq itu berasal. Mentaatai perintahNya, berarti kita menggolongkan diri sebagai orang berkeyakinan (beriman). Namun fakta yang terjadi banyak terjadi pergeseran budaya, hingga esensi hukum Ilahi tinggal formalitas belaka. Pemahaman terhadap nilai2 hukum tidak sepenuhnya difahami, hingga terjadi degradasi keimanan.
Untuk itu perlu dilakukan reformasi (format ulang), agar segala sesuatu yang telah lepas dari asalnya bisa segera dikembalikan lagi. Reformasi bukan bermakna pemikiran baru. Dari makna etimologi, reformasi adalah ‘mengembalikan tatanan kembali seperti semula’. Manusia terlahir dari ‘kasih sayang’ Ilahi memberi legalitas orang beriman untuk bisa meneruskan regenerasi. Hewan dan tumbuh2an, sama2 melakukan regenerasi, namun bagi selain manusia tidak ada amanat khusus, demikian Firman Alloh dalam QS 6.165, “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.
Kalimat “menjadikan kamu”, tentu diarahkan kepada semua manusia yang menyadari bahwa dirinya mengemban amanah Ilahi. Sehingga kekuasaan yang diberikan kepada manusia itu tentu mewakili peran Ilahi dalam menata kehidupan mendasarkan pada format awal diciptakannya langit, bumi dan segala isinya. Manusia lahir dari kasih sayang Ilahi dan kasih sayang itu mengalir kepada manusia yang pasti juga berjiwa kasih sayang. Kasih sayang melahirkan “kekuasaan’ yang dengan kekuasaan itu menebar kasih sayang pada seluruh kehidupan di bumi ini. Bumi ini akan semakin kering dari kasih sayang, manakala manusia kehilangan format awal kejadian manusia. Kekacauan dan kerusakan bumi telah menggambarkan betapa manusia sudah tidak lagi teraliri kasih sayang Tuhan.
Kita perlu introspeksi, agar kasih sayang Tuhan kembali lagi menyertai kehidupan manusia dan seluruh alam ini. Pertama dan utama yang perlu dimengerti adalah memahami dengan benar ayat “bismillah Arrohman Arrohim”. Ayat yang diulang2 dalam alfatehah itu bermakna “dengan asma Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Ayat ini disyaratkan oleh Nabi kepada orang2 beriman untuk selalu membacanya setiap hendak melakukan sesuatu. Ayat ini mengisyaratkan bahwa “asma Alloh” yang paling tinggi adalah “rohman (pengasih) dan rohim (penyayang)”. Kedua sifat itu melahirkan langit, bumi dan segala isinya. Karena itu, jika penguasa bumi mendasarkan kepemimpinannya pada dua sifat yakni “kasih dan sayang”, maka dunia akan kembali damai, tentram dan tenang tinggal di dalamnya.
Tahun baru ini momentum yang tepat untuk melakukan reformasi kehidupan secara total. Kita perlu menghadirkan kasih sayang Alloh menyertai setiap lini kehidupan. Di rumah tangga, di masyarakat, di kantor2, di sekolah2, di pasar2 dan di setiap jengkal tanah perlu disiram aliran kasih sayang. Berkasih sayang tidak terbatas pada sesama manusia, apalagi hanya sebatas pada agama yang sama, bahkan Rosululloh juga bisa akur dengan berbagai penganut beragama. Alam kita butuh kasih sayang, karena dengan rasa itu, alam akan memberi keramahan, kenyamanan dan kesejahteraan kepada manusia. Negara ini bisa dipastikan akan menjadi negara yang damai hanya dengan kasih sayang. Kita dukung pemimpin yang memiliki jiwa kasih sayang yang tidak hanya ingin mensejahterakan diri atau kelompok partainya saja, karena semua makhluq ingin mendapatkan curahan kasih sayang. Wallohu a’lam
GURU, ARSITEK GENERASI
0Bangsa yang besar ditentukan oleh para pendidiknya. Kita bisa melihat bangsa China saat ini. Kebesaran China dengan perkembangan yang pesat akhir2 ini diilhami oleh ajaran guru mereka Khong Hu Cu, seorang yang pada awalnya berangkat dari orang kecil miskindengan berbagai petualangannya, ia bisa menjadi manusia mulia. Dia memiliki filosophy hidup dua nilai yang teramat penting, kata Kong Hu Cu, yaitu “Yen” dan “Li:” “Yen” sering diterjemahkan dengan kata “Cinta,” tapi sebetulnya lebih kena diartikan “Keramah-tamahan dalam hubungan dengan seseorang.” “Li” dilukiskan sebagai gabungan antara tingkah laku, ibadah, adat kebiasaan, tatakrama dan sopan santun. Kebesaran itu bisa dialirkan oleh seorang guru, hingga generasi menggapai kebesarannya.
Bagaimana kita melihat perkembangan bangsa ini kedepan, sangat ditentukan pula oleh mutu guru. Bangsa ini akan dibawa kemana, bisa diukur dari seberapa hebat guru dapat mengalirkan jiwa orang2 besar yang pernah mengukir bangsa ini. Bangsa China melalui para guru, telah berupaya membentuk perilaku dan rasa kasih sayangnya hingga menjadikan China seperti saat sekarang ini. Apa yang dilakukan bangsa China itu disinyalir di dalam QS` 12.111, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman“.
Sejarah Para Nabi mengandung pendidikan yang sangat bagus untuk menjadi pengajaran dalam pembentukan watak manusia sempurna. Mereka adalah guru sebenar2nya. Karena itu para guru hendaknya memulai peran sebagai pendidik mengacu pada sikap dan perilaku para Nabi sebelum menyentuh tugas2 kependidikannya. Guru berfungsi sebagai agen multiplikasi karakter mempersiapkan manusia2 super masa depan. Maka sudah barang tentu, pemerintah harus mempersiapkan lembaga yang ideal untuk melahirkan calon2 guru tersebut. Landasan paling mendasar dalam penyiapan sosok guru ideal, adalah mental sebagai pendidik. Saat ini, guru lebih banyak disinggung pada aspek pengajaran, sehingga substansi yang diberikan baru sebatas materi ajar.
Pendidikan adalah sebuah upaya pembentukan watak (karakter). Watak yang dimaksud, lebih dekat pada nilai2 tanggungjawab ketuhanan, kemanusiaan dan lingkungan alam sekitar kehidupannya. Pengenalan pada Tuhan membentuk kesadaran bahwa manusia adalah makhluq yang diutus di muka bumi untuk menjalankan amanah mewujudkan “rahmatan lil ‘alamin”. Kedua, manusia adalah makhluq sosial yang harus belajar etika sosial kemasyarakatan. Menjalin silaturrohim antar sesama untuk mewujudkan tatanan Ilahi yang mendamaikan. Ketiga, melaksanakan tugas menjaga alam semesta agar bisa menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk bisa hidup sejahtera. Jika dasar2 pendidikan ini telah menyatu dalam watak dan perilaku manusia, maka proses pengajaran akan menjadi alat untuk mempertajam kedewasaan wataknya.
Guru sebagai manusia pembentuk watak, perlu dikondisikan terlebih dahulu. Selama ini, lembaga2 training lebih mengedepankan substansi pengajaran ketimbang substansi kependidikan. Ciri yang kental, kita bisa kenali sistem pendidikan dengan ukuran kuantitatif angka nominal, ketimbang kualitatif perubahan perilakunya. Dua hal tersebut mesti dilakukan secara seimbang. Alloh sendiri mendidik manusia agar menjaga keseimbangan sebagaimana firmanNya dalam 67.3, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”. Kita harus banyak belajar dari para Guru, yakni para Wali yang melahirkan orang2 unggul sesudahnya. Karena memperhatikan guru adalah cara efektif memperhatikan nasib bangsa masa depan. Wallohu a’lam
KESUCIAN MEMBAWA MANUSIA MENEMUI TUHANNYA
0Ada pepatah mengatakan, “setinggi2 tupai melompat, akhirnya jatuh ketanah juga”. Pepatah ini bisa disebut hukum alam atau dalam bahasa agama disebut dengan sunnatulloh. manusia adalah makhluk yang lahir dari air suci dan ditiupkan ruh yang suci. Asal usul manusia ini mempengaruhi fitrah manusia mencintai pada kesucian. Berdasarkan fitrohnya tersebut, manusia yang sedang melakukan perbuatan dosa, dihati kecilnya sesungguhnya bergejolah penyesalan dan rasa takut, karena ia sadar bahwa saat2 pembalasan dosa itu cepat ataupun lambat pasti akan datang. Namun fakta memang berkata lain. Meski mereka sadar akan rasa takut itu, nafsu yang mendorong untuk menghindar tidak lebih kuat dari nafsu jahat yang telah menjadi kebiasaan.
Dalam perjalanan hidup, dua orientasi hidup antara benar dan salah akan selalu bertarung dan membentuk pertahanan untuk saling melemahkan satu dengan yang lain. Pernyataan ini terdsebut di dalam QS 90.10, “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan“. Dua jalan itu tentu adalah kejahatan dan kebaikan. Lalu mengapa kenyataannya banyak manusia terjerumus kedalam lembah nista dan menganiaya diri sendiri? Kejahatan telah menjadi makanan rochani mereka sehari2. Mereka telah memberi ruang dan waktu akan bersarangnya kebiasaan buruk hinggap didalam hatinya. Kebiasaan ini membentuk perilaku dan akhirnya mereka sulit untuk menghindar dari kebiasaan yang sesungguhnya mereka membencinya.
Setiap manusia memiliki dua kecenderungan itu. Ada rajin, ada pula malas. Ada produktif, ada pula konsumtif. Ada suka dan ada duka. Semuanya bergolak dalam diri setiap manusia. Kecenderungan itu bisa dikendalikan secara internal maupun eksternal. Secara internal kita bisa lakukan dengan ritual seperti sholat, puasa, shodaqoh dan juga perbuatan2 sosial lainnya yang mengarah pada kebaikan. Secara eksternal kita bisa mencari sosok pembimbing yang bisa membawa kita terkoreksi setiap langkah dan perilaku sehari2. Alloh mengingatkan kepada kita dalam QS 12.53, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang“.
Semua cara itu sesungguhnya bermuara pada pembentukan “kesucian” jiwa. Alloh adalah dzat Yang Maha Suci. Karena itu untuk bisa menemui Tuhan, kita harus berusaha mensucikan diri. Ketemu dengan Tuhan tidak perlu menunggu saat kita mati, karena sifat Tuhan tidak akan terbatas pada ruang dan waktu. Saat inipun, jika manusia tertap terjaga di dalam kesucian maka manusia tetap berada di alam yang suci. Maka tidaklah heran, jika kita sering mendapati karomah manusia2 suci. Beliau memperoleh rahmat Tuhan yang hanya diberikan oleh Tuhan kepada siapa saja yang menjaga diri dalam kesucian. Manusia suci itu tidak lagi berfikir dirinya, bahkan seluruh hidupnya dipersembahkan kepada Tuhan untuk memikirkan orang lain.
Manusia2 suci oleh Alloh dijamin keselamatan dan kemuliaannya. Alloh berfirman dalam 16.103 “Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman“. Boleh saja kita melompat tinggi sebagaimana tupai, namun kita mesti sadar bahwa kita akan kembali ke tanah lagi. Kalau kita tidak pernah melompat, yakni melakukan banyak hal yang membangun kemanfaatan, rasanya juga tidak nikmat kita bisa kembali dengan selamat dan damai di hadapan Ilahi. Makan pun tidak akan terasa nikmat, jika kita tidak pernah bekerja dari jerih payah sendiri. Dengan berbekal kesucian, kita akan terdidik sifat2 Tuhan, suci dari perbuatan dosa, banyak berkarya, kaya manfaat dan meninggalkan warisan yang mensucikan diri serta generasi. Wallohu a’lam
KEKUASAAN BUKAN SARANA MENCARI HARTA
0Di dalam Al Qur’an banyak penjelasan yang menyinggung masalah kekuasaan. Jika kita bawa kepada fakta yang terjadi di lapangan, banyak hal yang perlu pemikiran, karena bertabrakan dengan etika religi. Seperti apa yang kita lihat selama ini, bahwa kekuasaan adalah mercusuar yang menjadi incaran hampir setiap orang. Untuk mendapatkannya, kadang manusia sering kehilangan kontrol, sehingga untuk memperoleh kekuasaan itu, segala cara bisa ditempuh. Mulai dari pucuk pimpinan sampai kelas RT telah terkondisi hampir sama. Kekuasaan identik dengan kebenaran, sehingga apapun yang menjadi keputusan kekuasaan menjadi tuntunan. Sedangkan ketentuan religi yang seharusnya menjadi tuntunan, berubah menjadi tontonan.
Ada sebuah ayat yang terkait dengan topik ini, tersebut di dalam QS 45.16, “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya)“. Ayat ini memberi kejelasan akan menyatunya antara “kekuasaan” dan “kenabian”. Sedangkan kedua hal itu adalah pemberian dari Alloh, bukan keinginan yang muncul dari manusia itu sendiri. Sementara dilain ayat dikatakan dalam QS 3.31, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.
Di dalam ayat kedua, kekuasaan identik dengan perwujudan eksistensi Ketuhanan yang maujud. Karena itu mentaatinya adalah sebuah keharusan, karena berkait dengan nilai2 keimanan manusia itu sendiri. Dengan demikian, hal ini juga akan sangat berpengaruh pada sistem dan etika pemilihan. Menurut ayat, kekuasan ditunjuk langsung oleh Alloh, sedangkan menurut fakta, kebanyakan muncul dari kehendak manusia yang punya kepentingan. Seolah seperti bumi dengan langit, dua hal tersebut secara karakter sangat berbeda, bahkan bisa disebut bertolak belakang. Jika memang demikian adanya, lalu apa sikap kita menghadapi realita tersebut? Tulisan ini sekedar menjadi wacana keilmuan, untuk memberi pemahaman generasi kedepan yang seharusnya tidak sekedar ikut2an, tetapi berjalan berdasar ilmu yang benar.
Menurut QS 38.35, “Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” Kerajaan yang diamanatkan kepada Nabi Sulaiman, adalah kekuasaan yang didasarkan pada “kesucian”. Hal ini jelas ditegaskan pada awal ayat bahwa kerajaan yang dijalankan, didasari pada “ampunan” yang semestinya menjadi sifat awal seorang penguasa yang terbebas dari dosa. Sifat maksum seperti itu diperlukan agar di dalam upaya menegakkan rambu2 kebenaran, tidak dikotori oleh kepentingan nafsu manusia yang mudah luluh dalam perbuatan tercela. Sebelum melangkah, penguasa harus punya rambu dan anasir Ketuhanan yang melekat didalam setiap ucapan, perbuatan dan kepurusan2nya.
Maka jika kekuasan itu diperoleh dengan uang, maka bisa dipastikan bahwa tegaknya kekuasan itu adalah sarana untuk memperoleh uang. Akibatnya etika moral di masyarakat yang sering kali bertabrakan dengan tatanan religi, tidak pernah diindahkan, Jika perlu agama dan segala aktifitas ritual yang dilakukan semata2 hanya sebagai alat untuk kelanggengan kekuasaan. Fakta yang terjadi sekarang ini patut menjadi keprihatinan bersama. Kekuasaan menurut Agama, adalah sakral dan berorientasi pada penegakan nilai2 moral. Nilai2 Ilahiyah itu seharusnya lebih ditaati ketimbang kekuasaan yang hanya mendasarkan pada kepentingan individu dan kelompok tertentu saja. Maka bukanlah menjadi keheranan, jika kekuasaan meninggalkan etika agama, yang terjadi, uang yang lebih berkuasa, sehingga orang miskin selalu menjadi korban penguasa. Wallohu a’lam
MENGUJI KEYAKINAN DIRI
0Banyak ayat di dalam Al Qur’an yang menyinggung berbagai ujian keimanan bagi setiap orang yang mengaku telah beriman. Diantaranya di dalam QS 29.2, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dari penjelasan ayat tersebut, memang “keimanan” bukanlah pengakuan diri, akan tetapi memang sebuah pengakuan dari orang lain dari ciri2 “keyakinan” yang muncul dari sikap, perilaku danide atau gagasannya. Ungkapan “kami telah beriman” baru sepihak yang dikatakan oleh diri seseorang. Suatu contoh, apabila kita mendapati seseorang mengatakan bahwa dirinya seorang dokter, maka untuk meyakinkan pengakuannya, ia butuh selembar ijazah yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan yang telah mendidik dan mengujinya.
Ayat2 lain banyak juga menyinggung, seperti dalam QS 3.14-15, bahwa manusia akan diuji dengan harta, wanita dsb. Akan tetapi bagaimana kita tahu bahwa itu semua merupakan ujian yang datang dari Alloh SWT ? Sebelum seorang siswa mengikuti UAN (Ujian Akhir Nasional), bisa menguji diri dengan apa yang disebut “try out”, adalah latihan mandiri mengerjakan soal2 untuk menguji ketangkasan dan keilmuan kita. Tray out hendaknya kita lakukan setiap tarikan nafas kehidupan ini. Agar sebelum kita menerima benturan dan ujian dari luar, maka kita telah mempersiapkan benteng kekuatan yang kokoh. Orang yang menyiapkan diri untuk melakukan uji kekuatan buat diri sendiri, akan memiliki kekuatan mental menghadapi berbagai situasi. Situasi itu misalnya, saat2 susah, senang, sibuk dan senggang, semuanya dimanfaatkan untuk menempa diri.
Munculnya percaya diri seseorang memang tidak serta merta hadir tanpa adanya upaya tiap diri seseorang. Ada sebuah ayat yang memperkuat pendapat ini, tersebut dalam QS 2.195, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik“. Ayat ini menegaskan pernyataan untuk ‘tidak menjatuhkan diri dalam kebinasaan’. Manusia yang tidak ingin menjadi terpuruk, secara ilmiah harus membekali diri dengan keyakinan tinggi melalui pengayaan ilmu dan pengalaman. Dengan demikian perjalanan hidupnya akan diisi dengan melakukan karya-karya nyata dan pengembangan secara terus-menerus.
Ada sebuah contoh pribadi berkeyakinan diri tinggi yang terjadi pada masa Rosululloh SAW. Sahabat Nabi tersebut bernama Abdurrahman Bin Auf. Abdurrahman adalah salah seorang sahabat yang ikut hijrah ke Madinah. Keluarga dan sanak saudara serta hartanya ditinggal demi mempertahankan keimanan dan keyakinan yang nilainya lebih mahal dari langit, bumi serta segala isinya. Sebagai bentuk kedekatan persahabatan dan kepedulian akan situasi sulit yang dihadapinya, ia ditawari oleh sahabat anshor untuk memilih usaha dan istri untuk dimiliki Abdurrahman. Keluhuran budi dan keyakinan yang tinggi itulah yang membuat Abdurrahman tidak mudah menyerah dari situasi sesulit apapun. Maka dengan kerendahan hati, Abdurrahman menolak halus tawaran itu, dan ia hanya meminta untuk ditunjukkan dimanakah letaknya pasar.
Pribadi agung seperti Abdurrahman Bin Auf, memang layak untuk dibentuk pada generasi yang punya nyali. Untuk mencapai derajad itu, masing2 diri harus membentuk pola petahanan diri dan tetap tegar serta ulet menghadapi berbagai benturan dan tekanan. Pengakuan keimanan yang hanya menghiasi mulut hanyalah akan menghasilkan kesombongan dan keakuan. Keyakinan yang melembaga dalam jiwa manusia akan membentuk karakter produktif dan inovatif. Manusia yang berkeyakinan akan selalu menciptakan perubahan dalam dirinya bahkan mampu mengajak orang lain ikut berubah, bergerak menuju kesempurnaan. Manusia adalah makhluq dinamis yang mudah bosan dengan situasi statis. Sifat suka berubah perlu dipupuk, agar kita menjadi manusia spiritualis yang mencerahkan dan menerangi lingkungan kita. Wallohu a’lam
HIDUP TIDAK PERNAH MERUGI
0Hidup ini sendiri sesungguhnya adalah keberuntungan. Betapa tidak, sejak bayi masih ada di dalam kandungan, sang Ibu yang sedang mengandung, selalu berhati2 agar bayi terlahir dengan selamat. Sedikit saja terjadi kelainan, kandungan itu dibawa ke dokter, dukun bayi untuk mendapat perawatan. Lahir pun, telah disiapkan segala kebutuhan bayi dengan segala pengamanannya. Segala kebutuhan hidup telah tersedia di alam raya yang memang disediakan bagi kebutuhan manusia. Dari itu semua, logikanya, hidup adalah keberuntungan yang harus disyukuri oleh manusia. Namun kenyataannya, banyak sekali manusia yang tidak beruntung, bahkan cenderung sebagian besar manusia di belahan bumi ini dalam kondisi memprihatinkan ditinjau dari kesejahteraan dan penghidupannya.
Barangkali kita perlu menyampaikan arti secara benar akan “untung” dan “rugi”. Agar masyarakat sadar akan situasinya. Ada beberapa ayat di dalam Al Qur’an yang berbicara masalah untung dan rugi. Salah satunya ada di dalam QS 103.1-3, bahwa kebanyakan manusia dalam keadaan merugi kecuali orang2 beriman yang mau sharing (berbagi). Kata kunci ayat itu adalah “waktu”, “kepercayaan” dan “berbagi”. Waktu disebut pula kesempatan. Manusia yang tidak menyadari bahwa waktu adalah kesempatan, maka mereka tidak merasa bahwa ada dalam “kesempatan”. Akibatnya, detik2 waktu yang selalu bersamanya, bukan menghadirkan peluang untuk mendapatkan manfaat, malah justru waktu digunakan untuk menunggu sesuatu yang sering menimbulkan kejenuhan dan kebosanan.
Waktu, hendaknya dianggap kapital atau investasi. Menyia2kan waktu, berarti ia membiarkan kapital itu tidak berkembang. Waktu perlu ditata dan rancang sedemikian rupa untuk digunakan beraktivitas yang menimbulkan manfaat atau produktifitas. Setiap hari perlu dievaluasi, apakah berlalunya hari, kita merasa diuntungkan ataukah sebaliknya. Jika hari ini kita rugi, maka hari esok harus bisa memacu agar kerugian itu bisa ditutupi oleh keuntungan. Berikutnya adalah “kepercayaan”. Manusia sering berharap agar dirinya dipercaya orang lain. Namun setelah amanah itu diberikan, seringkali tidak dipelihari dengan baik, akibatnya membuat orang yang memberi kepercayaan tidak lagi mempercayainya. Demikiaan pula amanah Alloh yang diberikan kepada manusia, banyak kepercayaan yang tidak diindahkan.
Alloh mengingatkan kepada manusia seperti dilansir dalam QS 30.41, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)“. Bumi ini diwariskan kepada manusia, sebagaimana Alloh katakan dalam QS 21.105, “Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur[973] sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh“. Dari dua ayat tersebut, jelas2 bahwa Alloh telah mempercayakan bumi kepada manusia, namun kebanyakan manusia tidak sadar akan amanah itu, bahkan kecenderungan manausia lebih suka merusaknya.
Selanjutnya, kerugian manusia karena dipicu oleh keengganan untuk saling berbagi. Kalu manusia sedang dalam keadaan gembira, biasanya mereka lupa bahwa akan datang saat sedih. Jika ia dalam situasi berlebih, mereka lupa bahwa akan datang masa dimana ia akan kekurangan. Seberapapun kehebatan seseorang, tetaplah ia pasti butuh uluran tanagan orang lain. Kesadaran ini seharusnya menimbulkan rasa berbagi dengan orang lain, karena manusia adalah makhluk sosial. Pengusaha dimanapun lebih banyak meraup keuntungan meskipun ia banyak memberi penghidupan kepada banyak karyawannya. Berbagi tidak mengurangi jatah rizqy kepada kita. Alloh mengingatkan kepada kita agar tidak pernah merugi sebagaimana disebut di dalam QS 61. 11, yaitu menjadikan “harta” dan “jiwa” untuk berjuang melawan keterpurukan, kemunduran dan keterbelakangan ummat. Wallohu a’lam
ORANG BERIMAN TAMPIL BEDA
0Seolah berkonotasi negatif, jika kita mendengar kata “tampil beda”. Pada hal, justru Al Qur’an mengisyaratkan agar orang2 beriman suka tampil beda. Sinyal itu tersebut di dalam QS 25.1 “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”. “Furqon”, artinya “berbeda”. Jika ada orang tua yang sedang kesulitan mengingatkan anaknya yang susah makan, ia harus mencari pendekatan yang “berbeda” dari yang dilakukan kebanyakan orang. Biasanya, orang tua cukup dengan marah dan marah agar anaknya takut dan mau mengikuti perintahnya. Mungkin sekali dua kali, cara itu efektif dilakukan, tetapi jika tiap hari harus dilakukan marah-marah terus, lama kelamaan, tidak hanya anak yang bosan, orang tuanyapun akan bosan melakukan.
Banyak jalan menuju roma. Ungkapan itu memberikan gambaran bahwa multi metode dalam pendekatan pendidikan, akan lebih kondusif hasilnya. Bahasa lain adalah “tampil beda”. Sesuatu yang berbeda akan membuat orang lain terperangah dan terkesima menangkapnya. Lalu ia akan berusaha mencermati perbedaan itu dan jika memang membawa maslahat, ia akan adopsi dan dimanfaatkan. Suatu hari Sunan Bonang datang disuatu kerumunan orang2 yang sedang berziarah kubur. Sejenak berfikir sang Sunan, hingga ia menemukan cara untuk membangun daya tarik. Serta merta diatas kubur itu dibakar kemenyan yang membuat asap tebal itu mengepul membumbung tinggi. Kerumunan itu bertanya “apa yang terjadi”, Sang Sunan mengundangnya ke rumah, selepas makan2, beliau menjelaskan pentingnya mengenal dan menyembah Alloh.
Tampil beda bukan berarti “asal beda”. Tampil beda lebih bernuansa creative (mencipta yang baru), inovatif (pengembangan dari yang telah ada), variatif (keragaman dalam manfaat dan segmen pasar) dan atractive (menarik dari tampilan). Kita sering prihatin, jika ada orang beriman yang membiarkan dirinya tampil apa adanya. Seolah ia tidak merasa bersalah, bahwa mengurus performance diri adalah sebuah kewajiban dan bagian dari cara mensyukuri nikmat Alloh yang dianugerahkan pada dirinya. Kita bisa belajar dari designer tingkat dunia. Harga sebuag design bisa menjangkau jutaan kali lipat dari sekedar bahan bakunya. Sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya akan menjadi icon dan kebanggaan yang harus dibeli dengan harga sangat mahal karena perbedaannya itu sendiri.
Untuk sebuah pembaharuan, para nabi juga melakukan upaya yang sama. Sangatlah sulit difahami, jika kita hanya punya satu Tuhan, tetapi berbeda beda Kitab suci. Kalau berbeda nabi masih bisa difahamu, karena Nabi punya umur yang terbatas. Mungkin kita sepakat bahwa sebenarnya Kitab2 yang kita kenal dari beberapa Nabi pada` esensinya sama. Tetapi Nabi mencoba memberi nama yang berbeda agar ada nuansa reformasi. Jangankan untuk Nabai yang berbeda, sedangkan nabo Muhammad`saja, menyebut Al Qur’an dengan beberapa sebutan, misalnya Al furqan, An Nur dsb. Tampil beda adalah turunan lain dari istilah “berubah”. Berubah seharusnya menjadi kebutuhan setiap orang beriman, karena kita sadar bahwa tidak ada yang langgeng dibumi ini, kecuali “perubahan” itu sendiri. Jika kita tidak mengikuti perubahan, kita pasti akan dirubah oleh keadaan.
Ada sebuah do’a monumental yanng selalu dibaca oleh Nabi Sulaiman. Do’a ini tersebut di dalam QS 38.35, “Ia (Sulaiman) berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi“. Nabi sulaiman tidak ingin tampil biasa-biasa saja, apalagi suka latah meniru orang lain. Do’anya sungguh menggetarkan, karena beliau lebih memilih tampil dimasyarakat sebagai dirinya sendiri. Beliau bekerja dan berfikir keras untuk menunjukkan bahwa “beda” adalah akar dari “keunggulan” yang harus dimiliki oleh orang2 yang menjadi agen perubahan. Menjadi yang terbaik tidak bisa ditunggu dan diharap dari orang lain, tetapi harus menjadi kebutuhan untuk menumbuhkan semangat hidup yang lebih menggairahkan. Wallohu a’lam
MENJADIKAN DIRI ORANG PENTING
0Banyak diantara manusia mengira bahwa menghormati orang lain lebih penting dari menghomati diri. Wujud syukur manusia kepada`Alloh adalah memelihara apa yang Alloh berikan kepada kita, termasuk diri kita sendiri. Mencampakkan diri dalam kehinaan sama halnya kita menghina Alloh. Karena Alloh telah memberikan ciptaan terbaik diri kita dibanding makluq lain dibumi ini (QS 95.4). Jika kita melihat fakta dilapangan, kebanyakan manusia yang menyandang orang beriman, tampak mengesampingkan kepentingan diri. Hal ini bisa diamati dari cara merawat diri, merawat lingkungan kehidupannya dan pola komunikasi dengan sesamanya. Sangat berbeda dengan pola kehidupan orang2 di negara maju yang sedikit terbentuk dari ajaran agama, apapun agamu itu.
Orang2 tersebut dalam menapaki perjalanan hidup dengan mengandalkan logika. Dalam bertransaksi, negosiasi, komunikasi, argumentasi, senantiasa dikaitkan dengan ilmu dan nalar. Apa yang kita lihat secara umum kehidupan mereka lebih tertata, disiplin, inovatif, kreatif, produktif dan meyakinkan. Tidak dipungkiri, dalam permasalahan moral, mereka memang lemah. Jika saja pola2 positif itu bisa terjadi pada orang2 beriman, maka akan semakin menambah kewibawaan dan harga dirinya. Dengan mata kepala, mereka melihat fakta bahwa orang2 beragama di negara2 mayoritas penganut agama banyak terjadi kemunduran, keterbelakangan dan tidak menunjukkan sesuatu yang bisa dibanggakan. Sehingga agama dianggap sebagai penghalang untuk menguasai berbagai keilmuan, teknologi, kemewahan dan kehebatan lainnhya.
Sedangkan disangkanya agama mengesampingkan logika. Pada hal banyak sekali ayat2 di dalam kitab suci yang mengajak para penganutnya agar tidak terjebak pada doktrin yang sering meninggalkan akal sehat. Al Qur’an sering menyebut kalimat “afala ta’qilun”, artinya “apakah kamu tidak menggunakan akal”. Banyak kalimat lain yang setara dengan pengertian itu, agar orang2 beriman menguasai berbagai keunggulan sebagaimana tersebut dalam QS 38.45, “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi“. Lalu, apa yang salah, sehingga ummat2 beragama menanggung derita dibelahan bumui ini, sehingga segala aspek banyak yang tertinggal dari manusia2 yang tidak dibesarkan dari pemahaman agama tertentu.
Salah satu penyebab keterpurukan itu, adalah orang2 beriman tidak mengira bahwa dirinya adalah manusia hebat yang juga bisa memicu kehebatan di dunia ini. Hingga saat ini, tidak pernah ada berita keunggulan muncul dari makhluk lain selain manusia. Jika saja ada, sesungguhnya kehebatan itu dipicu oleh ulah manusia yang membuatnya menjadi atraktif. Seperti misalnya, anjing pelacak, harimau sircus, lumba2 yang cerdas dsb. Menjadikan diri orang penting adalah tugas masing2 diri, agar keberadaannya juga dipentingkan oleh orang lain. bagaimana kita berharap orang lain menganggap kita penting, jika kita sendiri tidak pernah berkepentingan untuk menjadikan diri orang penting. Sebagai contoh, orang yang menjual jasa sebagai tukang kayu, tidaklah mungkin jasanya akan dicari banyak orang, jika mutu dari layanannya tidak memuaskan.
Menjadikan diri orang penting adalah awal seseorang untuk memperoleh kehormatan orang lain. Alloh juga menyarankan agar setiap diri mengutamakan perhatian pada`diri sebelum orang lain. Sinyal ini tersebut di dalam QS 66.6 “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. Jika masing2 diri, mencoba menggali potensi, lalu mempertajam potensi itu lebih profesional, maka setiap diri akan menjadi manusia bermutu. Inilah awal sebuah upaya membuat diri menjadi manusia penting, dan inilah saat seseorang mulai menjadi manusia yang berkontribusi, bukan manusia beban. Wallohu a’lam
MEMBENTUK JIWA PAHLAWAN
0Momentum 10 November sebagai hari pahlawan, selain melakukan upacara, juga introspeksi diri, apakah kita nanti juga gugur sebagai pahlawan (mujahid). Sahabat rosululloh pada masa lalu, selalu berharap masing2 ingin gugur sebagai pahlawan. Karena sang mujahid telah dijamin akan menghuni syurga tertinggi. Kalangan awam mengira bahwa mujahid dicapai ketika manusia hidup dalam situasi genting dan berperang. Maka agar ia gugur dalam sahid, ia ciptakan konflik/peperangan. Jika sudah demikian, maka Islam yang juga bermakna “damai”, akan hilang dari esensinya. Semestinya, jika sahid merupakan jalan menuju kesempurnaan hidup, maka setiap diri bisa menjangkaunya. Lalu apakah sahid mesti ditempuh melalui perang fisik sebagaimana pemahaman awam.
Banyak sekali ayat di dalam Al Qur’an yang mensitir tentang peperangan. Artinya, bahwa setiap manusia harus tahu musuh. Musuh pertama seorang Nabi adalah orang2 yang berdosa (QS 25.31).. Sinyal ini menjelaskan bahwa orang2 yang dekat dengan Nabi seharusnya orang2 yang menjaga diri dari perbuatan dosa. Maka Nabi selalu terjaga sebagai mujahid, karena dalam mengemban tugas2nya selalu berhadapan dengan musuh2. Lalu bagaimana dengan manusia biasa, apakah harus mencari musuh? Di dalam QS 61.9 dikatakan, siapa saja yang membawa misi kebenaran risalah, maka dipastikan akan mendapat musuh yang menentang misi itu. melawan kejahatan dan kebatilan tidak pernah berhenti selama dunia ini ada. Maka, akhir hayat dengan tetap konsisten memegang nilai2 kebenaran adalah sahid.
Ada pula musuh yang nyata2 ada disekitar rumah kita, mereka adalah anak2 dan istri (QS 64.14). Ujian cukup berat dalam menegakkan tatanan yang benar, justru tatanan yang juga harus diterapkan kepada orang2 terdekat kita. Mengadili orang lain, barangkali masih mudah untuk diterapkan seberapapun beratnya. Namun mungkin kita akan berfikir beberapa kali jika fihak terhukum adalah orang yang kita sayangi. Inipun merupakan perjuangan melawan musuh yang pernah juga terjadi pada masa Nabi Nuh terhadap puteranya, juga Nabi Luth terhadap istri terdekatnya. Melihat dari sejarah tersebut, ternyata hidup ini sendiri adalah sebuah perjuangan yang apabila kita sanggup menghadapi dengan istiqomah, maka akhir hidup kita sebagai mujahid. Perang tidak hanya didefinisikan pada perang fisik semata, namun wahyu memberikan ruang kepada manusia untuk memiliki semangat juang.
Ada pula perang yang paling besar. Dikala perang badar usai, Nabi sempat menjelaskan bahwa perang melawan diri adalah perang diatas segala perang. Jika musuh ada diluar diri kita, maka kita masih punya saat atau jeda untuk menghindari musuh tersebut. Akan tetapi jika musuh itu ada di dalam diri manusia itu sendiri, maka setiap tarikan nafas, kita wajib waspada. Sedtik saja lengaj, kita akan dikalahkan oleh diri ini. Maka perang yang mana lagi yang lebih berat kita hadapi selain musuh yang ada setiap saat didalam hidup ini? Inilah yang perlu kita cermati, bahwasanya setiap diri ada kesempatan untuk menjadi “mujahid”, yakni menempati predikat tertinggi syurga Alloh. Kuncinya adalah, kita hendaknya mengenali dengan jeli musuh2 kita dan menaklukkan secara arif agar musuh bertekuk lutut tanpa ada setetes darahpun mengalir. Inilah Islam yang mendamaikan itu. Wallohu a’lam